Begitu melangkahkan kaki ke dalam dunia artefak, Lynx dan Ling Mei langsung merasakan tekanan mengerikan yang menyelimuti tempat itu. Udara yang mereka hirup terasa berat, seakan dipenuhi oleh energi jahat yang menusuk langsung ke dalam tubuh.

Ling Mei menyentuh liontin di lehernya—artefak perlindungan dari Walikota Huoling. Meskipun memberikan perlindungan, dia masih bisa merasakan hawa jahat yang berputar di sekeliling mereka.

Lynx berdiri tegak di sampingnya, kedua matanya menyapu area sekitar. “Dunia ini sudah terkontaminasi energi iblis lebih dari yang aku kira.”

Ling Mei mencoba mengerahkan persepsi spiritualnya, tetapi aliran qi di tubuhnya terasa terhambat. Seolah-olah ada sesuatu yang membungkus tempat ini dalam kabut yang menghalangi semua deteksi.

“Qi kita tidak bisa menyebar…” gumamnya. “Aku tidak bisa merasakan keberadaan apa pun di sekitarku.”

Lynx mengangguk kecil. “Sepertinya energi iblis terlalu pekat, menghalangi persepsi spiritual.”

"Energi ini sungguh unik, bahkan dapat menghalangi energi saktiku." Batin Lynx."Menemukan wanita itu tidak akan semudah yang ku bayangkan."

Ling Mei menyipitkan matanya memandang Lynx. "Pemuda ini tanpa ragu memasuki dunia kecil yang berbahaya. Entah dia memang pemberani atau terlalu bodoh. Tapi aku akan melihat kemampuannya, apakah dia sungguh tidak mengetahui mengenai Luo Zhen atau memang dia yang menolong istri walikota." batinnya dengan perasaan curiga.

"Forging Qi tingkat satu, tapi bisa mengejarku kemari tanpa kuketahui. Dia bahkan bisa menemukan penyakit Li Mei dan menyembuhkannya. Ditambah kemampuan memilih batu roh dengan tepat. Pemuda ini bukan manusia biasa. Dan sekarang, dia dengan santainya masuk ke dunia yang penuh energi iblis tanpa takut terinfeksi. Aku tetap harus mewaspadainya." Ling Mei menggenggam pedangnya lebih erat merasakan latar belakang pemuda di depannya tidak biasa dan khawatir dia memiliki  niat terselubung.

Di hadapan mereka, pemandangan dunia artefak ini terlihat mencekam. Tanah yang dulunya subur kini penuh retakan menghitam, seakan terbakar oleh api jahat. Tulang-tulang binatang iblis berserakan di berbagai sudut, berlumuran noda merah kehitaman, seperti darah yang telah mengering selama ribuan tahun.

Di kejauhan, pepohonan besar menjulang tinggi, cabang-cabangnya tampak seperti cakar yang siap mencengkeram siapa saja yang mendekat. Angin berembus lemah, membawa aroma logam dan belerang, bercampur dengan bau busuk yang menguar dari tanah.

"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Lynx sambil memperhatikan keadaan sekitar. Mereka tidak bisa menentukan arah dan tidak mengetahui dimana keberadaan fragment senjata ataupun posisi Yin Yue.

"Walikota tidak menceritakan apapun tentang dunia kecil ini. Kita terpaksa mencarinya. Aku yakin kita akan menemukannya." kata Ling Mei.

"Baiklah, biasanya tempat seperti ini memiliki beberapa lapisan sebelum mencapai pusat inti artefak. Kemungkinan besar benda itu ada disana." kata Lynx.

"Darimana kamu mengetahuinya?" tanya Ling Mei dengan sorot mata tajam.

"Aku pernah mendengar tentang berbagai dunia kecil didalam artefak dan ciri-cirinya kurang lebih sama." Lynx berusaha menjelaskan. Dia sudah mencoba menggali ingatan leluhur Xiao Tang, namun tidak ada informasi mengenai artefak ini. Berdasarkan ingatannya, setiap tokoh yang terlibat diberikan tugas masing-masing untuk menyimpan dan merahasiakan lokasi fragment sehingga tidak ada pihak lain yang mengetahui keberadaannya. Sehingga Xiao Tang tidak mengetahui tentang lokasi fragmen senjata tersebut.

Ling Mei terdiam dan melanjutkan perjalanannya. Tanpa mengetahui arah, dia bergerak sesuai instingnya.

Tiba-tiba, dari arah sebuah bukit didekat mereka, terdengar suara gemuruh. Batu-batu besar berguling dan menimbulkan dentuman keras. Ling Mei segera menegang, tangannya erat menggenggam gagang pedangnya.

Dari kegelapan, sesosok makhluk muncul. Seekor serigala raksasa dengan bulu hitam yang berkilauan seperti baja, matanya bersinar merah menyala. Dari mulutnya meneteskan cairan hitam pekat yang mengeluarkan asap tipis saat mengenai tanah.

“Awas!” Ling Mei segera mundur setengah langkah, bersiap menghadapi serangan.

Serigala iblis itu menggeram rendah sebelum melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa!

Ling Mei segera melompat ke samping, menghindari serangan langsung, lalu mengayunkan pedangnya dengan cepat. Namun, sebelum tebasannya mengenai sasaran, serigala itu menghilang seperti kabut hitam, muncul kembali tepat di belakangnya!

“Cepat sekali!” pikir Ling Mei, terkejut.

Makhluk itu mengayunkan cakarnya dengan kekuatan menghancurkan! Ling Mei mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun dampak dari serangan itu tetap membuatnya terpental beberapa langkah ke belakang.

Ling Mei segera maju membalas menyerang dengan lebih persiapan, dia tiba-tiba mengangkat tangannya dan melangkah ke depan.

Dengan satu gerakan ringan, dia menepuk tanah di bawahnya. Sebuah getaran halus menjalar, dan dalam sekejap, tanah di bawah serigala iblis itu retak! Batu-batu tajam melonjak ke atas, menabrak tubuh makhluk itu dengan keras.

Serigala iblis itu melompat mundur, menghindari serangan, tetapi Ling Mei sudah menunggunya. Dengan gerakan cepat, dia mengayunkan pedangnya ke depan dengan pukulan mengandung qi!

Pedang Ling Mei mendarat di sisi tubuh serigala, membuat makhluk itu melolong kesakitan sebelum tubuhnya terhempas ke samping, menabrak pohon hitam besar hingga tumbang.

Makhluk itu bangun dengan marah dan menyerang kembali. Ling Mei kaget melihat tubuh serigala iblis tersebut hanya mendapat luka kecil dan segera pulih.

Melihat makhluk itu mengarahkan serangan berikutnya ke arah Lynx, Ling Mei sengaja memperlambat gerakannya karena ingin melihat kemampuan pemuda itu.

Lynx bisa menebak rencana Ling Mei, dia diam menunggu serangan makhluk itu. Dia tahu, serangan itu tidak akan dapat melukainya.

"Huh, dia terdiam karena takut. Ternyata dia tidak memiliki kemampuan bertarung." batin Ling Mei sambil bergerak menyerang serigala iblis yang sudah sangat dekat cakarnya dengan tubuh Lynx.

Melihat serangannya tidak membunuhnya, Ling Mei bersiap kembali, matanya penuh kewaspadaan. “Mahluk ini bukan binatang iblis biasa. Gerakannya terlalu cerdas, seolah memiliki kesadaran.”

Serigala iblis itu bangkit kembali. Luka di tubuhnya dengan cepat menutup sendiri, bulunya yang tercabik-cabik kembali seperti semula. Ia menggeram ganas, mengitari Lynx dan Ling Mei, mencari celah untuk menyerang lagi.

“Ada sesuatu yang aneh di tempat ini,” ujar Ling Mei pelan. “Binatang iblis ini bermutasi, tidak sama dengan binatang iblis sejenis didunia kita. Mahluk ini bukan hanya fisiknya yang lebih kuat, tapi ia juga terlihat lebih cerdas dan bisa beregenerasi dengan cepat. Kalau hanya melukai tubuhnya, tidak akan ada gunanya.”

"Xiao Ling, berhati-hatilah. Aku harus menghancurkan inti energinya untuk mengalahkannya,” kata Ling Mei. “Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri." katanya dengan nada dingin namun tetap tanpa disadari menunjukkan rasa kepeduliannya

Lynx menyipitkan mata. “Baiklah. Berhati-hatilah. Aku akan berjaga disini. Aku yakin kamu bisa menghabisi inti energinya.”

Serigala iblis itu kembali menyerang, kali ini dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya! Cakarnya yang berkilat seperti logam menghantam tanah dengan keras, menciptakan lubang besar di permukaan tanah.

Ling Mei melompat ke depan, menghadang makhluk itu. Dengan gerakan gesit, ia menghindari serangan dan langsung mengayunkan pedangnya tepat ke rahang serigala!

Serigala itu terdorong ke belakang, tetapi sebelum bisa pulih, Ling Mei sudah melompat ke udara, pedangnya bersinar tajam, mengarah langsung ke dahi makhluk itu.

Dengan satu serangan tebasan lurus—

SWOOSH!

Pedang Ling Mei menancap tepat di tengah kepala serigala, mengenai titik energi iblisnya!

Serigala itu melolong keras, tubuhnya menegang, dan dalam hitungan detik, ia meledak menjadi kabut hitam yang berangsur-angsur menghilang.

Ling Mei mendarat dengan mulus, sedikit terengah-engah. “Akhirnya…”

Lynx mengamati sisa-sisa kabut hitam yang melayang di udara. “Sepertinya semua makhluk di tempat ini sudah mengalami perubahan serupa.”

Ling Mei mengangguk, menyeka keringat dari dahinya. “Kalau satu serigala saja sekuat itu, aku tidak bisa membayangkan seperti apa rintangan yang menunggu kita di dalam.”

Lynx menoleh ke arah hutan yang gelap di depan mereka. Jalan mereka masih panjang, dan bahaya yang lebih besar pasti menanti.

“Tidak ada jalan kembali,” kata Lynx. “Kita harus terus maju.”

Ling Mei mengeratkan genggaman pedangnya. “Baik. Ayo kita lanjutkan.”

Dengan hati-hati, mereka kembali melangkah ke dalam kegelapan dunia artefak, menuju rintangan berikutnya yang tak terduga…

